Friday, April 20, 2018

Apakah Facebook Akan Ditutup? Begini Kebenaran Informasinya!

·   0




Facebook via: marketingland.com
Sangat banyak kabar dilaman Facebook mengenai ditutup atau di blokirnya media networking sosial besar tersebut. mulai 24 April lalu postingan mengenai informasi penutupan facebook menjadi viral.
Netizen, khususnya pemakai Facebook beramai-ramai posting status "Facebook akan ditutup", ada juga yang mengunggah "sebelum Facebook ditutup posting status atau foto dulu."
Kabar ditutupnya Facebook juga menjadi pro dan kontra di antara netizen.
Meski begitu, rumor yang viral dan beredar luas di media sosial khususnya Facebook itu, dipastikan tidak benar alias hoaks.
Pemerintah memang bisa beri sanksi tegas memblokir Facebook, karena data satu juta pengguna Indonesia ikut bocor dalam skandal Cambridge Analytica (CA).
Namun tak ada kepastian bahwa tanggal 24 April mendatang, Facebook benar-benar akan diblokir di Indonesia.
bagaimana kabar tentang penutupan facebook ini dan bagaimana pula respon minta maaf daripada pihak facebook kepada Indonesia? seperti yang di lansir dari tribunnews.com berikut rangkaian beritanya!
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam berbagai kesempatan tidak pernah menyinggung akan memblokir Facebook.

Justru Rudiantara mengatakan, Kementerian Kominfo tak segan memblokir Facebook, namun harus sesuai prosedur agar langkahnya tak gegabah.

Rudiantara enggan berbicara tentang penutupan operasi Facebook secara permanen. Ia lebih fokus memantau Facebook agar tercipta keamanan data dan mencegah penyebaran ujaran kebencian.

DPR juga sempat meminta agar Kominfo lebih tegas terhadap Facebook.

"Kami dan pemerintah--pihak Kemkominfo--akan bicara lagi, terkait tindak lanjut dari kesalahan Facebook. Secara pribadi saya masih terbuka dengan sanksi, tidak menutup kemungkinan juga untuk--menyarankan--memoratorium layanan Facebook," ujar Meutya Hafid, Anggota Komisi I DPR RI.

Meutya memerkirakan, DPR RI akan menunggu hasil investigasi internal Facebook selama satu bulan ke depan.

"Kami tunggu, saya rasa sebulan waktu yang seharusnya cukup. Kami harap hasil investigasi ini bukan hanya menyalahkan siapa, tetapi juga harus ada informasi, ke mana data yang disalahgunakan ini dan digunakan untuk apa," katanya.
Satu-satunya pernyataan tegas Rudiantara soal blokir Facebook adalah, jika ditemukan bukti bahwa Facebook dipakai sebagai sarana menghasut atau adu domba.

Rudiantara memastikan jika penyidik menemukan unsur dugaan pidana dalam kebocoran data pengguna Facebook di Indonesia, peluang memblokiran Facebook akan semakin besar.

Sementara ini, kedua hal tersebut belum bisa dibuktikan, masih dalam penyelidikan dan menunggu hasil audit.

"Kalau ada indikasi bahwa Facebook di Indonesia digunakan untuk penghasutan, seperti yang terjadi di Myanmar. Saya tidak punya keraguan untuk blokir," ujar Rudiantara, beberapa hari yang lalu.

Pihak Kemkominfo sudah mengirimkan SP 2 terhadap Facebook, tapi belum ada informasi mengenai SP 3 yang berarti penutupan.

Ketika ditanya jangka waktu berlaku SP 2 menuju SP selanjutnya, Rudiantara belum memberikan jawaban definitif.

"Ya bisa sehari, sebulan, dilihat situasinya dulu," pungkas Rudiantara.

Ia mengaku sudah mendapatkan penjelasan dari kantor Facebook Irlandia yang mengurus Facebook di Indonesia.

Dalam keterangan Facebook Irlandia kepada Rudiantara, mereka memberikan keterangan angka terkait penyalahgunaan data yang menimpa pengguna. Rudiantara pun terus memantau perkembangan data pengguna Indonesia di Facebook.

Minta Maaf Facebook Indonesia Atas Kebocoran Data

Kepala Kebijakan Publik Facebook untuk Indonesia Ruben Hattari mengatakan pihaknya meminta maaf terkait kebocoran data satu juta pengguna salah satu penyelenggara sistem elektronik (PSE) tersebut di Indonesia.

"Kejadian ini adalah bentuk pelanggaran kepercayaan dan kegagalan kami untuk melindungi data pengguna, kami mohon maaf atas kejadian tersebut," kata Ruben dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi I DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, kemarin.

Seperti dikutip dari Antara, dia menjelaskan kejadian kebocoran data tersebut disebabkan adanya sebuah aplikasi bernama "thisisyourdigitallife" yang dikembangkan akademisi di Cambridge University yaitu DR. Alexander Kogan dan menggunakan fitur Facebook Login yang tersedia secara umum.

Menurut Ruben, Facebook Login, memungkinkan pengembang aplikasi pihak ketiga untuk meminta persetujuan dari pengguna aplikasi Facebook agar aplikasi mereka bisa mengakses kategori data tertentu yang dibagikan pengguna tersebut dengan teman Facebook mereka.

"Facebook, dimana kami dengan tegas melarang penggunaan dan pengiriman data yang dikumpulkan menggunakan cara ini untuk tujuan lain," ujarnya.

Dia menjelaskan setelah Dr. Kogan mendapatkan data pengguna Facebook, data tersebut kemudian diberikan ke Cambridge Analytica dan pihaknya tidak memberikan izin atau menyetujui pemindahan data tersebut dan dianggap telah melakukan pelanggaran kebijakan platform Facebook.

Menurut dia, berdasarkan penelitian Facebook dari laporan media, pada Desember 2015 pihaknya menangguhkan akses aplikasi tersebut yang menggunakan Facebook Login.

"Kami juga menuntut Dr. Kogan serta perusahaannya saat itu Global Science Research Limited dan entitad lainnya yang sudah dikonfirmasi bahwa mereka telah menyerahkan data yang terkumpul melalui aplikasi ke entitas tersebut untuk memberikan penjelasan dan segera menghapus semua data tersebut," katanya.

Masih dikutip dari Antara, Ruben menegaskan bahwa Facebook tidak pernah menyetujui penggunaan data oleh Cambridge Analytica yang diperoleh dari aplikasi Dr. Kogan dan kedua bertindak sebagai pengendali data pihak ketiga yang independen dan menentukan tujuan serta cara memproses data yang diperolehnya.

Dia mengatakan kedepannya agar kasus tersebut tidak terjadi lagi, Facebook sedang menginvestigasi semua aplikasi yang pernah mendapatkan akses atas informasi dalam jumlah besar.

"Jika ada dari mereka menyalahgunakan data pengguna, kami akan memblokir dari Facebook dan memberitahu semua orang yang terkena dampak," ujarnya. Dia juga menekankan bahwa Facebook memastikan agar para pengembang tidak dapat mengakses banyak informasi.

Fitur ini belum tersedia sekarang :

#Komentar diluar topik tidak akan dibalas
#Spam, Promosi, dan/atau melanggar kebijakan Google & AdSense tidak akan di setujui